Minggu, 08 Maret 2015

Di Balik Coklat Tersimpan Penyehat Jantung

Di Balik Cokelat Tersimpan Penyehat Jantung - Aneh mungkin bila dikatakan cokelat bisa menyehatkan jantung, apalagi bila dikaitkan bahwa cokelat mengandung banyak lemak yang sering dituduh menjadi biang obesitas dan penyakit jantung. Cokelat memang sarat lemak sehingga tinggi energi (kalori).
Seratus gram cokelat manis atau semimanis memasok energi kira-kira 470-528 kilo kalori sebab mengandung lemak sebesar 40-53 persen. Sementara kakao (bubuk biji cokelat) menyediakan energi sekitar 215-300 kilo kalori per 100 g, tergantung pada jumlah lemaknya.
Namun, cokelat bukan hanya terdiri dari lemak. Ia mengandung pula karbohidrat dan protein, serta mineral seperti zat besi, fosfor, kalium, krom, magnesium, dalam kadar yang signifikan.
Cokelat pun mengandung teobromin dan kafein- senyawa-senyawa yang bekerja di pusat saraf-yang dalam jumlah tertentu dapat mengangkat mood.
Begitu melekatnya rasa lezat dan manis pada cokelat membuat orang mungkin melupakan rasa dasar cokelat, yaitu pahit. (Padahal, kata cokelat memiliki arti air yang pahit; berasal dari kata xocolatl, yang diambil dari bahasa suku bangsa Aztec di Amerika Selatan.)
Rasa pahit yang terdapat pada cokelat berkaitan dengan komponen kimia yang dimilikinya, flavonoid. Flavonoid memainkan peran penting sebagai pigmen pewarna alami, senyawa pemberi cita rasa dan pelindung dari kerusakan akibat oksidasi. Adanya flavonoid dalam cokelat dapat mencegah lemak cokelat mengalami ketengikan sehingga mengurangi kebutuhan akan penambahan bahan pengawet dari luar.
Penelitian mutakhir yang dilaporkan oleh Mary B Engler PhD dari University of California, San Francisco, Amerika Serikat, dan 10 koleganya (2004) memperlihatkan bahwa konsumsi cokelat, tepatnya dark chocolate yang sarat flavonoid, dapat menyehatkan jantung. Itu ditandai dengan adanya perbaikan fungsi endotel (lapisan sel gepeng yang melapisi permukaan dalam pembuluh darah, pembuluh limfa dan rongga tubuh). Efek memberikan perlindungan spesifik pada jantung yang dianggap berasal dari flavonoid
cokelat meliputi mencegah oksidasi kolesterol LDL (kerap disebut kolesterol jahat karena berdampak buruk untuk jantung) serta menghambat aktivasi dan agregasi platelet (partikel
darah yang terlibat dalam penggumpalan darah). Selanjutnya, peningkatan kapasitas antioksidan plasma dan penurunan produk-produk oksidasi plasma berhubungan dengan peningkatan konsentrasi epicatechin.
Antioksidan adalah zat pencegah oksigen bergabung dengan zat lain untuk menimbulkan kerusakan pada sel-sel tubuh. Di dalam darah, antioksidan akan membersihkan radikal bebas yakni molekul kecil reaktif penyebab kerusakan tubuh, yang dapat memicu terjadinya penyakit serius, seperti penyakit jantung dan kanker. Dr Mary dkk melakukan riset pada 21 orang sehat dengan desain studi yang baik-randomized, double-blind, placebo-controlled. Ke-21 subyek terdiri dari 11 laki-laki dan 10 perempuan berumur 21-55 tahun yang berberat badan ideal, tidak merokok, bukan vegetarian, tak menjalankan aktivitas fisik ekstrem, tidak berpenyakit jantung, diabetes, hiperlipidemia, gangguan tiroid. Bagi yang perempuan tak sedang hamil. Subyek-subyek ini secara acak (random) dibagi menjadi dua grup. Grup I terdiri dari 6 lakilaki dan 5 perempuan, diminta mengonsumsi dark chocolate bars tinggi-flavonoid (213 mg procyanidin, 46 mg epicatechin). Sementara grup II terdiri dari 5 laki-laki dan 5 perempuan, diminta mengonsumsi dark chocolate bars rendah-flavonoid (sangat sedikit procyanidin dan epicatechin) masing-masing sebanyak 46 gram setiap hari selama periode 2 minggu lebih.
Para subyek diminta untuk tetap menerapkan pola makan yang biasa dikonsumsi sehari- hari dan tidak mengonsumsi makanan dan minuman kaya- flavonoid (daftar disediakan untuk subyek), minuman alkohol, suplemen vitamin, dan obat-obat non-steroid anti-inflamasi dua hari sebelum tiap kunjungan (baseline dan 2 minggu kemudian).

BACA ARTIKEL LAINNYA: 
Hasilnya, subyek yang mengonsumsi dark chocolate sarat-flavonoid mengalami perbaikan fungsi endotel dibandingkan dengan subyek yang mengonsumsi dark chocolate rendahflavonoid.
Setelah dua minggu, konsentrasi epicatechin plasma dalam kelompok tinggiflavonoid meningkat nyata sekali (204,4 + 18,5 nmol/L), tetapi tidak pada kelompok rendahflavonoid (17,5 + 9 nmal/L).
Ini merupakan percobaan klinis pertama yang menunjukkan perbaikan fungsi endotel orang sehat yang mengikuti konsumsi jangka-pendek dark chocolate tinggi-flavonoid. Perbaikan di atas berkaitan dengan peningkatan konsentrasi epicatechin plasma.
Beberapa studi terdahulu mengungkapkan, cokelat menyediakan antioksidan pada kadar amat tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh University of Scranton, AS, menunjukkan bahwa kemampuan antioksidan dalam cokelat relatif sangat tinggi dibandingkan dengan dalam makanan dan minuman lain, seperti teh, wine-hasil fermentasi buah anggur-merah, kismis, stroberi, bayam.
Di antara produk-produk cokelat, antioksidan dark chocolate menduduki peringkat paling atas, diikuti oleh cokelat susu. Dark chocolate mengandung antioksidan flavonoid kira-kira 8,5 kali kandungan antioksidan flavonoid stroberi, yang menduduki peringkat tinggi di antara buahbuahan.
Bukti bahwa cokelat merupakan antioksidan kuat untuk mencegah oksidasi kolesterol-LDL sudah dilaporkan pada riset sebelumnya. Studi yang dilakukan Andrew L Waterhouse PhD dkk dari Department of Viticulture and Enology, University of California, Davis, AS, mengungkapkan, cokelat dapat menghambat oksidasi kolesterol-LDL sebesar 75 persen. Sebagai perbandingan, pada dosis yang sama, wine merah dilaporkan menghambat oksidasi kolesterol-LDL lebih rendah, yaitu sebesar 37-65 persen.
Temuan di atas merupakan kabar gembira bagi para penggemar berat cokelat, khususnya kaum perempuan, serta anak- anak dan remaja, yang lebih menyukai cokelat daripada teh.
Perempuan-perempuan yang sulit membatasi konsumsi cokelatnya, tetapi khawatir kesehatannya akan terganggu, kini dapat sedikit terhibur karena cokelat pun menyediakan antioksidan top. Apalagi, bila lebih memilih makan cokelat berisi potongan-potongan buah, seperti kismis, stroberi, jeruk, atau anggur; paduan nikmat sekaligus sehat.(to/kmp)

Sponsor

Responsive Ad

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kontak · Privasi · Tentang
© 2015 SCECOND.COM. Template oleh PosHape. ke Atas